Selasa, 16 Februari 2010

rahasia di balik malam Lailatul Qadar

Apa Makna di Balik Malam Lailatul Qadar??

Seperti yang telah kita ketahui bersama malam Lailatul Qadar jatuh pada hari-hari ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sering kali kebanyakan orang mengatakan bahwa “Malam Lailatur Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan”, lalu apakah maksud dari pernyataan ini?? Mari kita telusuri lebih dalam apa sebenarnya maksud yang terkandung dari pernyataan tersebut. Pertama, kita pahami dahulu apakah yang dimaksud dengan Malam Lailatul Qadar itu sendiri. Untuk lebih jelasnya mari kita kaji dengan berdasar pada surat Al-Qadr.

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Penjelasan: dari ayat tersebut saya mencoba membuat suatu kesimpulan. Malam Qadar adalah malam dimana diturunkannya aturan. Dari surat tersebut dijelaskan bahwa pada malam Qadar Allah menurunkan Al-Qur’an, padahal kita tahu bahwa Al-Qur’an merupakan peringatan yang nyata yang berisi tentang aturan-aturan yang digunakan untuk mengatur segala urusan. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus diturunkan aturan?? Karena jaman dahulu adalah jaman jahiliyah yaitu jaman kebodohan, dimana kebanyakan orang hanya menganut pada kebiasaan yang tanpa dasar, mereka sering mengatakan “pada umumnya,biasanya”, mereka tidak memiliki dasar/ landasan, itu dikarenakan mereka masih bodoh. Lalu diturunkanlah aturan yang diharapkan bisa mengatur kehidupan mereka supaya lebih baik dan tidak menganut pada kebiasaan-kebiasaan mereka lagi. Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa “Malam Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan”, maksudnya malam turunnya aturan itu menjadi lebih baik karena sebelumnya mereka tidak tahu aturan. Kata “seribu” bisa diartikan sebagai bilangan dan kata “bulan” berarti waktu. Sehingga setelah malam itu kita diberi “karunia” (tambahan pengetahuan) yaitu dapat membedakan antara bilangan dengan waktu, konkret dengan abstrak, yang sudah pasti dan yang sedang berjalan. Tidakkah itu lebih baik??? Pada malam itu Malaikat ( berbentuk ruh yang disucikan) dengan izin Allah membawa Qur’an yang berisi aturan yang mengurus berbagai urusan. Kalimat terakhir ” sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar”, berarti sejahteralah orang-orang yang tadinya bodoh, sekarang telah mendapat aturan/petunjuk maka diharapkan kebodohan itu akan segera berakhir. Kata “malam” mengarah pada kegelapan yang bisa diartikan sebagai kebodohan dan kata “sampai terbit fajar” bisa diartikan sebagai batas malam, yaitu batas kebodohan. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Malam Lailatul Qadar selalu jatuh pada hari-hari ganjil?? Menurut pendapat saya ganjil berarti sudah memiliki 1 pilhan yang terbaik. Jika genap berarti masih ada 2 pilihan sehingga bias dikatakan serakah, sedangkan kalau ganjil berarti sudah ada 1 pilihan yang pasti, sekalipun pilihan ini salah, namun setidaknya sudah berani untuk melangkah untuk mendekati keberhasilan.Menurut pendapat Anda masuk akalkah penalaran saya ini?? Bandingkan dengan pengrtian yang dimiliki kebanyakan orang yang sering kali mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan yang sebanding dengan 83 tahun??? Rasiokah jika dengan menjalankan ibadah pada malam Lailatur Qadar saja dapat menghapus dosa-dosa yang kita lakukan selama 83 tahun?? Adilkah yang demikian ini?? Padahal kita tahu bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Terkait dengan penjelasan saya mengenai malam Lailatul Qadar sebagai malam turunnya aturan, saya terfikir untuk membahas kota Mekah yang sering kali disebut-sebut sebagai “tanah suci”. Sebenarnya dari mana istilah ini di dapat??? Setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata Mekah merupakan tempat turunnya Al-Qur’an, turunnya aturan, turunnya kesucian. Tapi menurut saya julukan yang diberikan terhadap kota Mekah sebagai “tanah suci” terlalu berlebihan, sebaiknya bisa disebut sebagai tempat turunnya kesucian. Kalau disebut sebagai “tanah suci” ini cukup membingungkan kita, kalau tanahnya suci lantas bagaimana mungkin kita menginjakkan kaki kita di atas tanah yang suci tersebut?? Sekali lagi ini semua merupakan pendapat pribadi saya yang saya maksudkan untuk memberi suatu masukan.

Satu hal lagi yang masih mengganjal dalam fikiran saya yaitu apakah perbedaan antara kitab suci, Qur’an, Al-Qur’an dan kitab petunjuk?? Adakah salah satu dari Anda yang mampu menjawab ini semua?? Di sini saya hanya mencoba menjawab, barang kali jawaban saya ini kurang tepat, anda bisa membantu untuk menyempurnakan kesalahan saya.

  1. kitab suci : milik Allah.
  2. Qur’an : milik makhluk yang disucikan yakni Malaikat.

Dijelaskan dalam surat Al-Waqi’ah ayat 77- 79

Artinya: Dan (ini) sesungguhnya Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.

Penjelasan: Qur’an itu terpelihara dan tidak ada yang bisa menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan, dalam hal ini adalah malaikat.

  1. Al-Qur’an : milik makhluk yang dimuliakan, yakni Nabi Muhammad.

Dijelaskan dalam surat:

  1. Asy-Syu’ara ayat 192-194

Artinya: dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam (Allah), yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.

Penjelasan: Al-Qur’an itu datangnya dari Allah, yang diturunkan melalui Malaikat (ruh yang dapat dipercaya) lalu diberikan kepada Muhammad sebagai suatu peringatan.

  1. Al-Ankabut ayat 49

Artinya: sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang dzalim yang mengingkari ayat-ayat Kami

Penjelasan: Al-Qur’an itu memiliki kebenaran mutlak yakni yang tersimpan dalam dada (hati) kita, dan kita tidak bisa mengingkari kebenaran tersebut, kecuali jika kita termasuk orang yang zalim.

  1. Kitab petunjuk: milik orang yang taqwa.

Dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 2

Artinya : Kitab ini tidak ada keragu-raguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang taqwa.

Penjelasan: berarti yang kita baca selama ini merupakan kitab petunjuk yang tentu saja berisi tentang petunjuk-petunjuk yang akan membawa kita kepada pintu keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Bagaimana menurut pendapat Anda pribadi?? Adakah memiliki pendapat yang lain???

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar